Jumat, 19 September 2008

Wajah Mereka

Dihari ke empat kebersamaanku dengan anak-anak CMC aku udah mulai bisa mengikuti keseharian mereka. Anak 97 blajar reportase di luar kelas dan angkatan 98 blajar nemulis naskah, tapi sumpah blajarnya ngak enak banget, bikin ngantuk dan bosen, maklum instrukturnya udah berusia senja ( seumuran sama Ayah) jadi yah se tangkep-tangkepnya deh mau ngerti-ngak ngerti masa bodo. untungnya masalah struktur penulisan udah aku pelajari sejak SMP jadi yah ngerti ngerti aja, tapi yang kasian anak Teknik, diam-diam aku melirik mereka waktu belajar dan ekpresi mereka lucu-lucu, Iqbal mengerutkan keningnya berusaha mengerti apa yang disampaikan pak Dosen,tapi kayaknya gagal tuh!!!. terus si Vincent (Eh....Edi deng!!) dengan wajah polosnya jujur keliatah banget muka begonya, en yang kasihan banget si Nur (kipli) dia ngantuk banget dan untuk bertahan dia mengurut-ngurut keningnya biar ngak tidur beneran. kayaknya yang seger Gw doang deh....tapi untung si Bapak dosen ada keperluan diluar, jadi jam blajarnya cuma sampai jam 8. dan legalah ketiga sahabatku ini.

Selesai kelas, anak 97 juga buru selesai reportase, mereka langsung naik untuk liat hasilnya. setelah ngobrol sama Nur, Iqbal en Edi akhirnya kita ber4 ikut ke atas. wah anak siaran angkatan 97 kayaknya udah fasih banget jadi reporter salut banget buat mereka, kayaknya udah layak pakai banget. hanya saja beberapa kameramennya aja yang masih agak miring-miring ngambil gambarnya. ya walaupun dibahas sambil bercanda tapi aku yakin mereka bisa menilai apa kekurangan dan kelebihan mereka dan tinggal bagaimana mereka mengolahnya menjadi lebih baik esok hari.

Pulangnya, pas lagi ngumpul di bawah, Jeky secara resmi memperkenalkan aku ke temen-temen angkatan 97 dan seperti yang bisa aku baca mereka welcome banget ke aku. pulangnya pun aku ikut bareng mobilnya hany, sama Jeky en bang Rony ( Bpk MPR RI ). bang rony baru pulang dari dines di Padang, dan sebagai provokator, berhasillah Jeky memojokkan bang rony untuk nraktir makan malem. walhasil di daerah cawang kita makan dulu. Seneng deh gw bisa merasa begitu nyaman berada di lingkungan baru, Hany juga waktu cerita-cerita sama sekali ngak mengaggap aku orang lain. pokoknya Asik banget deh.

Aku semakin yakin bahwa aku sudah menemukan jalan hidupku, aku sudah menemukan warnaku, udah menemukan Duniaku dan ini ngak akan aku biarkan begitu saja, aku harus berhasil disini. dan biarkan hanya aku dan TUHAN yang tahu apa yang ada didalam hatiku. tentang perasaanku kepada seseorang yang ada disana, mudah-mudahan dia bisa menjadi semangat tambahan buat aku mengejar cita-citakutanpa harus terpublikasikan

karena satu hal yang aku percaya akan terjadi ...
" CINTA AKAN MENEMUKAN JALANNYA SENDIRI...."

Kamis, 18 September 2008

keluarga baru

bergabung dengan CMC begitu menyenangkan, semua penghuninya begitu welcome. termasuk senior/anak-anak angkatan 97 yang sama sekali tidak melihat anak baru (angkatan 98) sebagai makluk pendatang baru. dengan ramah mereka langsung menganggap kami sebagai keluarga. Pertama kali aku masuk loby untuk pertama kalinya diantara mereka, yang kutemui adalah seorang wanita bertubuh gempal namun energik, rame en supel. namanya jeky, cewek batak yang satu ini bener-bener bisa jadi pembawa suasana, pokoknya cocok banget kalo nantinya dia bakal jadi penyiar yang handal seperti Tika Panggabean yang nota bene satu marga dengan si Jeky.

sejak pertama kali ketemu dia udahbanyak cerita yang aku dapat dari dia, yang kedua dari angkatan 97 yang ku tahu seorang cowok berkacamata, dan kesan pertama yang ku tangkap adalah " secara sikap cowok yang bernama irfan ini mirip aryono haripuro" tapi ngak tahu ya aslinya gimana! ya walaupun kesan pertama gara-gara hampir tabrakan di pintu waktu mau solat, tapi kesan ramah membuat aku nyaman ketemu dia.

dihari ketiga kedatanganku di CMC aku lantas kenal dengan seorang cewek dari angkatan 97 juga, namanya Nur anak perumnas 2 bekasi, dia juga ngak menjaga jarak meskipun dia seniorku "di CMC lho, cos dia 2 tahun lebih muda dariku " sama ramahnya dengan Jeky dan Irvan, apalagi dia juga mau berbagi takjil pas buka puasa kemaren. " Nur Thank ya kuenya ".

Kelasku hanya dihuni 4 orang manusia, 3 cowok en 1 cewek(gw) en 3 teknik dan 1 siaran (gw lg), berhubung aku satu-sartunya cewek dan satu-satunya anak siaran jujur suasana kelas kurang rame. ke3 cowok itu semuanya kalem-kalem dan lembut-lembut, ngak ada yang bisa bersorak-sorai, walhasil kelas seringan basi dari pada enjoynya. kontras banget sama anak angkatan 97 yang banyak dan rame abis, pas pulang dan aku baru keluar kelas, didepan lobby anak 97 lg diskusi masalah picture mereka. wih rame banget ngak cowok-ngak cewek semuanya rame dan jumlahnya lebih dari 10 orang jadinya keliatan banget kelas mereka hidup.

pulangnya aku bareng jeky karena memang arah pulang kami sama, dibis aku ngak nyangka dia bisa open gitu sama aku, dan jadi tanggung jawabku untuk menjaga kepercayaan dia dan mudah-mudahan aku sama dia bisa menjalin persahabatan.

inilah keluarga baruku "CMC"................

Selasa, 16 September 2008

Mahalnya Nonton TV di Amerika

Hai sobat....suatu yang sangat mengcengangkan, bayangkan dinegara adikuasa yang memiliki nilai mata uang tertinggi ke dua didunia ini untuk sekedar menonton TV harus mengeluarkan minimal $8. makanya tak heran kalau yang memiliki televisi disana hanya kalangan tertentu saja. dan hanya ada 3 golongan yang biasa menonton televisi, yaitu kalangan orang-orang kaya, kalangan politikus dan kalangan orang yang membutuhkan informasi dari televisi.

Aneh ya...kita fikir di Indonesia televisi merupakan sebuah kebutuhan, tapi ternyata bukan...justru orang-orang amerikalah yang paling membutuhkan televisi. maka dari itu yang namanya program telavisi di sana lebih bermutu dan memang orang butuhkan. layaknya internet di Indonesia, televisi disana berfungsi sama, informasi apa yang kita butuhkan tinggal cari chanelnya dan dapat Informasinya.

bandingkan yang ada di Indonesia, Prograam televisi lebih banyak berisi hal-hal yang ngak penting dan hanya berorientasi pada yang dinamakan RATING DAN SHARE jadinya makin lama cara yang ada di Indonesia monoton dan akhirnya membuat bosan para penontonnya karena disuguhi program yang itu-itu saja. mengesampingkan nilai, mutu dan tanggung jawab moral. ya akhibatnya masyarakat yang menjadi korban, mereka menjadi konsumtif dan lebih banyak menghayal dan terbuai sehingga lupa ada tanggung jawab yang harus dilakukannya.

Kapan ya Indonesia bisa seperti Amerika, yang pandai memanfaatkan teknologi. learning and doing from television. nah tugas gw juga nih sebagai calon seorang broadcaster, pilihanya hanya ada 2, Inetelejensia or Rating and Share, mau belajar dari amerika apa diam mengikuti apa adanya negara kita??????

Nah met Mikir ya.... terutama untuk anak-anak CMC
SUKSES 4 ALL


New Live

Sejak kemarin aku seperti memulai kehidupan baru. selama proyek sitac yang disamarinda belum selesai maka, aku ditugaskan untuk menggantikan posisi mas yudi di kantornya, tidak semewah kantor-kantor dibilangan Thamrin, Sudirman atau kuningan. tapi menurutku yang biasanya menyelesaikan segala jenis pekerjaan dirumah dan kini berada diam disebuah meja dilingkungan orang-orang berseragam , aku merasakan suasana yang berbeda. ya jujur aja browsing internet gratis menjadi salah satu nilai plus yang membuat aku betah disini.

Dari sesas desus yang aku dengar, kantor yang selama ini menjadi tempat kerjaku akan mengadakan penggabungan ruang kantor dengan kantor yang sekarang aku tempati. ya bagus lah jadi ada suasana baru yang mendukung keoptimalan dalam bekerja. dan jadinya Ayah dan Ibuku tidak selalu protes setiap kali anaknya diam dirumah tanpa tahu bahwa keberadaanku dirumah juga untuk bekerja.

satu lagi yang membuat hidupku terasa berubah, aku merasa telah melangkah dijalan yang aku inginkan, jalan yang akan mengantarkanku menuju impianku. Mulai kemaren sampai 3bulan kedepan aku akan mengikuti pendidikan Broadcasting, kini duniaku terasa terbuka dan aku tahu apa yang harus aku lakukan dan kemana aku akan melangkah.

menjadi seorang yang terjun didunia yang menyenangkan dan menyenangkan orang lain, menjadi orang yang diperlukan orang lain karena dianggap tahu akan segala sesuatu, seperti halnya Mbak Antrie Suryanto atau Aryono Hadipuro. ya walaupun aku tak akan bisa menyamai mereka tapi paling tidak berusaha untuk sukses seperti mereka telah aku lakukan. aku membayangkan disuatu hari nanti, aku bisa bergabung dengan mbak antrie dan berkreatifitas bersama. alangkah indahnya dikenal banyak orang tanpa harus merubah sesuatu yang ada pada diriku sekarang. karena orang hanya kan mengenalku sebagai orang yang menyenangkan dari balik layar....

My Dream Came true.......

Minggu, 24 Agustus 2008

Happy Birthday....

24 Agustus 2008....

Pagi ini aku terbangun bukan karena Alarm waktu solat Subuh, tapi aku terbangun hanya karena alarm pengingatku yang mulai menyanyikan lagu selamat ulang tahun yang menandakan ada yang ulang tahun hari ini. dan segera kulihat catatan dalan Hpku tertulis nama seseorang yang sangat aku kagumi. Siapakah dia? yah siapa lagi kalau bukan Akang Hedi Yunusku. memang tahun ini tidak menjadi istimewa buatku, tapi hari ini adalah hari yang mengingatkanku akan peristiwa yang terjadi di tanggal ini 2 tahun yang lalu. untuk pertama kalinya aku bertemu dengan idolaku itu secara pribadi. Aku yang saat itu sering mondar-mandir di Iradio Jakarta digedung sarinah, sangat tahu bahwa saat itu Kang hedi sedang aktif sebagai penyiar radio di Cosmopolitan FM, dan dengan mendapatkan dukungan dari teman-teman dari iradio untuk langsung mengucapkan selamat kepada sang idola dilokasi, maka akupun sudah mempersiapakn sebuah kado yang kubuat sendiri sejak 1 bulan sebelum peristiwa itu terjadi.

dan berkat kasih sayang Tuhan, maka tanggal 24 Agustus tahun 2006 aku bisa bertemu langsung dengannya, ngobrol dengannya, mendapat potongan kue ulangtahun darinya dan pastinya bisa ikut semua acara perayaan ulang tahun sang idola. sangat menyenangkan ketika 10tahun menunggu kesempatan itu terjadi akhirnya akupun berhasil dengan sukses. kebahagiaan yang luar biasa tak dapat dirangkaikan dalam kata-kata.

dan kini diusianya yang ke 40thn, aku tak tahu harus menemuinya dimana, karena sekarang dia sudah tidak lagi menjadi penyiar radio dan pastinya saat ini dia sedang sibuk dengan jadwal promo album terbarunya. Yah walaupun aku tidak dapat bertemu dengannya lagi, aku berdoa dan memohon yang terbaik tuk dilimpahkan kepadanya, untuk orang-orang yang dicintai dan disayanginya.

Happy Birthday to Hedy Yunus
WISH YOU ALL THE BEST FOREVER

Jumat, 22 Agustus 2008

Perjalanan III (kembali kemasa lalu )

Masih Minggu 17 Agustus 2008.......

Menjelang Jam 3 sore kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, Jadwal kami mundur 2 jam. seharusnya kami berangkat dari kendal sekitar pukul 1 siang ini, tapi ayah masih setia mendengarkan keluhan-keluhan pak dhe jadi kami mencoba bersabar.

Akulah yang sangat bersemangat dengan perjalanan ini, karena sudah sekian lama aku menginginkan saat-saat ini terjadi. Cukup lama aku memimpikan bertemu dengan shabat semasa aku kecil dulu, teman yang setia membagi waktu untuk bermain, belajar dan terkadang bertengkar berebut peran dalam permainan yang biasa kami sebut"PASARAN" sepanjang jalan aku terus mengenang akan masa kecilku.

Pukul 4 Sore kami sampai di Kota semarang, kami sengaja berhenti sebentar disana. Tujuan kami adalah simpang lima. Tapi sayang, hari ini tanggal 17 agustus yang pusat perayaannya adalah dilapangan simpang lima, walhasil kami harus lewat gang karena semua akses menuju simpang lima tertutup. Untangnya Ayah yang selama 3 tahun pernah hidup didaerah sini tahu betul apa yang harus kami lakukan. Kami parkir dibelakang Sri Ratu Mall dan berjalan kaki menuju lapangan simpang lima.

Lapangan simpang lima sedang sangat ramai, karena kami belum melaksanakan sholat ashar maka kesempatan ini kami gunakan untuk mengunjungi Masjid kebanggaan Masyarakat semarang, Apa lagi kalo bukan Masjid Baiturrahman, masjid yang berdiri dengan gagahnya menambah kesan islamiah ditengah-tengah keramaian kota semarang. sambil beristirahat kami mencoba menikmati nyamannya masjid ini. Yah walaupun kalau dibanding dengan masjid al Azhar atau Istiqlal apalagi kubah emas, jelas masjid ini tidak semegah mereka, tapi kalau bicara soal kenangan, maka Ayah akan banyak bercerita tentang Masjid ini.

Setelah puas beristirahat di masjid maka tujuan kami sudah tidak dapat diganggu gugat adalah wisata kulinernya. MAsuk kawasan Simpang lima, maka kita akan dimanjakan dengan kuliner yang menggugah selera, dan karena belum masuk waktu makan malam, maka kami memutuskan untuk membeli cemilan khas semarang yaitu " TAHU PETIS" tidak tanggung-tanggung kami membeli 30 pcs untuk kami makan sendiri dan 40 pcs untuk buah tangan kerabat-kerabat kami di ungaran. begitu mencium aroma tahu yang sedang digoreng dalam penggorengan yang berukuran raksasa, sudah terbayang nikmatnya tahu dengan saos petis berwarna hitam dan berasa manis ini. dalam hitungan menit, terbayar sudah sara kangenku pada makanan ini. Setelah mendapatkan tahu petis, mengingat hari makin sore dan perjalanan kami masih lumayan jauh, maka kami putuskan untuk menyudahinya kunjungan kami di Kota semarang. dan kamipun segera meluncur ke kota Ungaran. dalam perjalanan kami dan masih dikawasan kota semarang kami melewati sebuah tugu yang disebut dengan tugu muda, yang menarik adalah bangunan tua yang ada diseberangnya. Bangunan yang terlihat cantik itu memiliki pintu yang berjumlah 1000 pintu, maka dari itu gedung itu dinamakan "LAWANG SEWU" yang dalam bahasa indonesia berarti seribu pintu. Gedung yang tua dimakan Zaman itu menyimpan banyak misteri mistik, gedung tanpa perawatan yang baik itu beberapa kali dijadikan lokasi untuk syuting hal-hal yang berbau mistik seperti "Pemburu Hantu", "UKA-UKA" dan atau sebuah acara yang dipandu oleh pak H. Leo Lumato yaitu acara "Percaya ngak Percaya". Jujur aku sangat penasaran untuk memasukinya dan suatu hari nanti aku pasti akan kesana untuk berkunjung.

Karena cukup lelah maka sepanjang jalan Semarang menuju Ungaran aku tertidur, dan mulai tersedar ketuka memasuki kota Ungaran. Tujuan kami adalah Hotel Ungaran cantik, karena di ungaran kami tidak memiliki saudara, maka disanalah kami memutuskan untuk bermalam. Hotel ini sebenarnya hotel sederhana, hanya saja posisinya yang langsung berhadapan dengan Gunung Ungaran membuat hotel ini begitu ramai. dari balik jendela kamar kami nampak jelas kecantikan plus kegagahann Gunung yang menjulang tinggi dihadapan kami. tapi sayang kami terlalu sore sampai disini sehingga kami tidak bisa melihat terbenamnya matahari dari balik Gunung ungaran. dan aku jadi teringat ketika dulu masih tinggal disini, saat-saat habis hujan adalah saat-saat yang sangat menakjubkan, karena sering sekali terlihat pelangi yang menghiasi langit dengan latar belakang gunung yang berwarna hijau kebiruan itu, suatun pemandangan yang masih tetap kurindukan hingga kini dan berharap suatu hari nanti aku dapat menemuinya lagi.

Selepas magrib kami langsung meluncur ke suatu tempat dimana aku menghabiskan masa keciku yaitu Karangjati, kami langsung menuju rumah sahabatku yaitu Mbak menik. dan saat-saat itu tiba juga, tidak ada yang berubah dari sosok serang menik, dia tetap cantik dan mungil hanya saja kini dia telah memiliki satu orang putra bernama Farel, dalam waktu yang sangat sedikit itu kami manfaatkan untuk saling mengulang kenangan masa lalu. dan lagi-lagi moment 17an adalah moment yangpaling bersejerah dalam kehidupan kanak-kanak antara aku dan mbak menik. Dulu setiap 17 agutus, di desa kami selalu mengadakan panggung hiburan. dari tahun-ketahun kami tak pernah absen untuk menjadi pengisi acara. aku,m'menik dan m'rom adalah trio tereksis. bukan hanya 1buah pertunjukan yang kami tampilkan, minimal dalan sebuah pentas kami dapat mementaskan 2-3 tarian. mulai tari daerah sampai tari modern pernah kami hadirkan. sayangnya peristiwa-peristiwa itu tidak ada dokumentasinya jadi kami hanya dapat mereviewnya dalan kenangan kami saja.

Waktu semakan malam, ayah mengajak kami langsung kesebuah desa yang bernama Gembongan dan kami menyudahi kunjungan itu dan berharap bisa bertemu lagi. Di Gembongan kami langsung disambut oleh anak didik Ayah, namanya kang to, disanalah kami biasa transit. didepan rumah kang to lah berdiri sebuah rumah yang dimasa kecilku merupakan rumah termewah, disanalah aku dan keluargaku tinggal. dulu ayah punya usaha ternak ayam dalam jumlah yang besar. rumah kami sangat kecil dibanding dengan kandang-kandang yang berdiri dengan gagahnya dihalaman belakang rumah. dan percaya tidak percaya kami baru menyadari bahwa rumah itu memiliki nilai magis setelah kami meninggalkannya untuk pindah kejakarta. Dulu saat kami masih tinggal disana, suatu hari ayah pergi kesemarang untuk urusan dinas, mendadak kami mendapat kabar ayah masuk rumah sakit karena ginjalnya bermasalah. Belum sempat tetangga mengetahui kabar tersebut, para tetangga terkejut dengan rubuhnya salah satu kadang ayam ayah yang berukuran paling besar. untungnya pada saat itu adalah masa istirahat kandang. ada lagi cerita, suatu hari setelah rumah itu kami tinggalkan dan penghuni barunya baru menempati, hujan besar mengguyur disertai gemuruh guntur yang menggelegar dan tiba-tiba pohon kelapa yang ada dihalaman depan rumah tersambar petir dan beberapa hari setelah kejadian tersebut salah satu penghuni rumah tersebut ada yang dipanggil Allah SWT. yah entah hanya kebetulan atau karena memang memiliki nilai magis yang jelas rumah itu seperti memiliki hubungan batin dengan penghuninya, apalagi mitos posisi tusuk sate makin membuat nilai magis dari rumah itu semakin kental.


Keesokannya sebelum kembali kejakarta, aku menyempatkan diri untuk mengunjungi tempat dimana untuk pertama kalinya aku belajar membaca,berhitung,bersosialisasi sampai berorganisasi, disanalah aku memulai mengukir prestasi dibidang kepramukaan. 4 tahun aku disana dinobatkan sebagai dokter kecil. dimana lagi kalau bukan di Sekolah Dasar NEGERI 1 KARANGJATI. terlalau banyak kenangan yang tak terlupakan, disetiap sudut sekolah ini memiliki arti dalan hidupku, ruang kelas, halaman tempat biasa aku bermain kasti dan latihan pramuka, UKS dimana aku bisa menggunakan pakaian kebanggaanku sebagai dokter kecil, kantin dimana aku biasa membeli makan saat istirahat dan pohon bunga sepatu yang selalu menjadi korban kekreatifitasanku yang nakal dalam dunia potong memotong. Sungguh masa kecil yang sangat menyenangkan. dan itulah tempat terakhir yang aku kunjungi sebelum akhirnya aku kembali kejakarta dan memulai untuk melangkah lagi dan meneruskan hidupku.

Rabu, 20 Agustus 2008

Perjalanan II (Pahlawan,nasib petani tembakau&rasa syukur )

Masih Minggu 17 Agustus 2008

Saat orang-orang merayakan HUT RI yang ke 63 dengan berbagai kesibukan, mulai dari upacara,pesta kemerdekaan dan panggung hiburan seperti tahun-tahun sebelumnya. aku justru mendamparkan diri di laut lepas. Di pantai "Sekucing" aku semakin mengenal diriku dan mencoba berintropeksi diri.

Jam menunjukkan pukul 9 pagi, udara pantai mulai tak bersahabat, mataharipun semakin tinggi dan panas, banyak pengunjung yang pulang dan pantai mulai sepi. kami memutuskan untuk kembali, karena kami harus segera ke SAREAN (pekuburan) tempat semua saudara dan nenek moyangku dimakamkan. Setelah memandikan ponakanku yang hanpir selama 3jam berendam dipantai maka kami pun pulang.......

Sesampainya kami dirumah, kami langsung bersiap siap menuju SAREAN. Jujur 17an kali ini merupakan moment yang baik untuk memperkenalkan sosok pahlawan pada keponakanku . Almarhum Bpk SIDONO GONDOSUWITO, kakek/bapak kandung dari Bunda adalah salah satu pahlawan kemerdekaan. ini dibuktikan dengan ilustrasi bambu runcing dengan bendera merah putih yang terbuat dari seng yang tertancap di atas Nisan Kakek. Kakek memang tidak dimakamkan di Makam Pahlawan seperti pahlawan-pahlawan lainnya, karena kakek saat masih hidup memang pernah meminta untuk dimakamkan di SAREAN didekat desa agar anak cucunya bisa setiap saat-setiap waktu datang untuk mendoakannya. dan Bunda dengan bangganya menceritakan kenangan soal kakek kepada keponakanku itu.

Setelah kami merapikan semua bawaaan kami, tepat jam 10 kami melanjutkan perjalanan sesuai dengan rencana. Sebelum kami menuju Ungaran, kami mampir ke beberapa tempat, tadinya kupikir ini akan menjadi kunjungan biasa. siapa sangka ini akan menjadi pelajaran hidup bagiku dan ladang untuk bersyukur. Kami mampir ke salah satu Kakek Sepupu dari Bunda, beliau adalah adik dari almarhum kakekku. dia hidup sangat sederhana, rumah kampung berlantai tanah dan beratap genting tak memanpakkan diri bahwa dia cukup kaya, dia adalah pemilik beberapa petak sawah. sawah-sawah itu sebagian dia tanami padi dan sebagian dia tanami tembakau dan saat inipun dia sedang panen tembakau.

Warga daerah ini memang salah satu daerah penghasil tembakau. sepanjang jalan aku melihat berjejer irisan tembakau yang sedang dikeringkan secara tradisional. tiba-tiba teringat olehku, gencarnya pemberitaan bahwa akan dikeluarkannya Fatwa MUI mengenai pengharaman Rokok. kebayang ngak bagaimana nasib warga sini, termasuk juga kakek sepupuku ini kalau fatwa itu benar-benar disetujui. YA jujur saja aku termasuk orang yang menginginkan fatwa itu segera keluar karena bagiku asap rokok itu amat sangat mengganggu, tapi ini tidak akan menyelesaikan masalah, karena akan timbul masalah yang jauh lebih rumit. Menurutku satu-satunya cara untuk mengurangi konsumsi rokok adalah dengan menaikkan cukai rokok, sehingga masyarakat berfikir dua kali bila ingin membeli rokok dan kehidupan petani tembakau tetap bisa berjalan sebagaimana mestinya, karena rokok hanya bisa dikonsumsi oleh orang-orang berduit saja.

Karena waktu kami yang sempit, maka kami tidak lama berkunjung kerumah kakek sepupu. perjalanan kami lanjutkan menuju Kendal, kami hendak berkunjung kerumah pak dhe ( kakak laki-laki Bunda). semasa kecil dulu aku dan saudara-saudara sepupuku sangat segan dengan sosok pakdhe yang satu ini. dia sangat tegas dan jarang beramah tamah dengan ponakan-ponakannya. hanya saja aku senang bila diajak kerumah pakdheku yang satu ini, karena satu hal, rumahnya sudah modern dan nyaman. sebagai Wakil ketua DPR tingkat II Kendal yang saat itu dijabatnya, membuat pelayanan dirumah ini sangat menyenangkan, banyak makanan yang enak-enak dan beraneka macam permen yang tersedia di meja tamu sangat membuatku betah disana.

Siapa sangka, di usia tuanya kini beliau sudah tak berdaya. raut wajah yang tak bersahabat kini memancarkan kepasrahan. Penyakit pengapuran di tulang ekornya membuat pak dhe hanya bisa tertidur dikasurnya dengan aktifitas yang terbatas. bukan hanya itu. Di usia senjanya dia hanya hidup dengan istrinya karena anak-anaknya tinggal diluar kota,bahkan anak sulungnya kini sedang mengarungi samudra sebagai pelayar. Rasa sedih melihat keadaan pakdhe membuatku menangis, hatiku miris sekaligus bersyukur karena masih memiliki orang tua yang begitu sehat dan segar. dan apapun yang terjadi aku takkan membiarkan masa tua kedua orang tuaku dalam kesepian, sebisa mungkin aku akan mendampingi mereka sampai kapanpun.