Jumat, 22 Agustus 2008

Perjalanan III (kembali kemasa lalu )

Masih Minggu 17 Agustus 2008.......

Menjelang Jam 3 sore kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, Jadwal kami mundur 2 jam. seharusnya kami berangkat dari kendal sekitar pukul 1 siang ini, tapi ayah masih setia mendengarkan keluhan-keluhan pak dhe jadi kami mencoba bersabar.

Akulah yang sangat bersemangat dengan perjalanan ini, karena sudah sekian lama aku menginginkan saat-saat ini terjadi. Cukup lama aku memimpikan bertemu dengan shabat semasa aku kecil dulu, teman yang setia membagi waktu untuk bermain, belajar dan terkadang bertengkar berebut peran dalam permainan yang biasa kami sebut"PASARAN" sepanjang jalan aku terus mengenang akan masa kecilku.

Pukul 4 Sore kami sampai di Kota semarang, kami sengaja berhenti sebentar disana. Tujuan kami adalah simpang lima. Tapi sayang, hari ini tanggal 17 agustus yang pusat perayaannya adalah dilapangan simpang lima, walhasil kami harus lewat gang karena semua akses menuju simpang lima tertutup. Untangnya Ayah yang selama 3 tahun pernah hidup didaerah sini tahu betul apa yang harus kami lakukan. Kami parkir dibelakang Sri Ratu Mall dan berjalan kaki menuju lapangan simpang lima.

Lapangan simpang lima sedang sangat ramai, karena kami belum melaksanakan sholat ashar maka kesempatan ini kami gunakan untuk mengunjungi Masjid kebanggaan Masyarakat semarang, Apa lagi kalo bukan Masjid Baiturrahman, masjid yang berdiri dengan gagahnya menambah kesan islamiah ditengah-tengah keramaian kota semarang. sambil beristirahat kami mencoba menikmati nyamannya masjid ini. Yah walaupun kalau dibanding dengan masjid al Azhar atau Istiqlal apalagi kubah emas, jelas masjid ini tidak semegah mereka, tapi kalau bicara soal kenangan, maka Ayah akan banyak bercerita tentang Masjid ini.

Setelah puas beristirahat di masjid maka tujuan kami sudah tidak dapat diganggu gugat adalah wisata kulinernya. MAsuk kawasan Simpang lima, maka kita akan dimanjakan dengan kuliner yang menggugah selera, dan karena belum masuk waktu makan malam, maka kami memutuskan untuk membeli cemilan khas semarang yaitu " TAHU PETIS" tidak tanggung-tanggung kami membeli 30 pcs untuk kami makan sendiri dan 40 pcs untuk buah tangan kerabat-kerabat kami di ungaran. begitu mencium aroma tahu yang sedang digoreng dalam penggorengan yang berukuran raksasa, sudah terbayang nikmatnya tahu dengan saos petis berwarna hitam dan berasa manis ini. dalam hitungan menit, terbayar sudah sara kangenku pada makanan ini. Setelah mendapatkan tahu petis, mengingat hari makin sore dan perjalanan kami masih lumayan jauh, maka kami putuskan untuk menyudahinya kunjungan kami di Kota semarang. dan kamipun segera meluncur ke kota Ungaran. dalam perjalanan kami dan masih dikawasan kota semarang kami melewati sebuah tugu yang disebut dengan tugu muda, yang menarik adalah bangunan tua yang ada diseberangnya. Bangunan yang terlihat cantik itu memiliki pintu yang berjumlah 1000 pintu, maka dari itu gedung itu dinamakan "LAWANG SEWU" yang dalam bahasa indonesia berarti seribu pintu. Gedung yang tua dimakan Zaman itu menyimpan banyak misteri mistik, gedung tanpa perawatan yang baik itu beberapa kali dijadikan lokasi untuk syuting hal-hal yang berbau mistik seperti "Pemburu Hantu", "UKA-UKA" dan atau sebuah acara yang dipandu oleh pak H. Leo Lumato yaitu acara "Percaya ngak Percaya". Jujur aku sangat penasaran untuk memasukinya dan suatu hari nanti aku pasti akan kesana untuk berkunjung.

Karena cukup lelah maka sepanjang jalan Semarang menuju Ungaran aku tertidur, dan mulai tersedar ketuka memasuki kota Ungaran. Tujuan kami adalah Hotel Ungaran cantik, karena di ungaran kami tidak memiliki saudara, maka disanalah kami memutuskan untuk bermalam. Hotel ini sebenarnya hotel sederhana, hanya saja posisinya yang langsung berhadapan dengan Gunung Ungaran membuat hotel ini begitu ramai. dari balik jendela kamar kami nampak jelas kecantikan plus kegagahann Gunung yang menjulang tinggi dihadapan kami. tapi sayang kami terlalu sore sampai disini sehingga kami tidak bisa melihat terbenamnya matahari dari balik Gunung ungaran. dan aku jadi teringat ketika dulu masih tinggal disini, saat-saat habis hujan adalah saat-saat yang sangat menakjubkan, karena sering sekali terlihat pelangi yang menghiasi langit dengan latar belakang gunung yang berwarna hijau kebiruan itu, suatun pemandangan yang masih tetap kurindukan hingga kini dan berharap suatu hari nanti aku dapat menemuinya lagi.

Selepas magrib kami langsung meluncur ke suatu tempat dimana aku menghabiskan masa keciku yaitu Karangjati, kami langsung menuju rumah sahabatku yaitu Mbak menik. dan saat-saat itu tiba juga, tidak ada yang berubah dari sosok serang menik, dia tetap cantik dan mungil hanya saja kini dia telah memiliki satu orang putra bernama Farel, dalam waktu yang sangat sedikit itu kami manfaatkan untuk saling mengulang kenangan masa lalu. dan lagi-lagi moment 17an adalah moment yangpaling bersejerah dalam kehidupan kanak-kanak antara aku dan mbak menik. Dulu setiap 17 agutus, di desa kami selalu mengadakan panggung hiburan. dari tahun-ketahun kami tak pernah absen untuk menjadi pengisi acara. aku,m'menik dan m'rom adalah trio tereksis. bukan hanya 1buah pertunjukan yang kami tampilkan, minimal dalan sebuah pentas kami dapat mementaskan 2-3 tarian. mulai tari daerah sampai tari modern pernah kami hadirkan. sayangnya peristiwa-peristiwa itu tidak ada dokumentasinya jadi kami hanya dapat mereviewnya dalan kenangan kami saja.

Waktu semakan malam, ayah mengajak kami langsung kesebuah desa yang bernama Gembongan dan kami menyudahi kunjungan itu dan berharap bisa bertemu lagi. Di Gembongan kami langsung disambut oleh anak didik Ayah, namanya kang to, disanalah kami biasa transit. didepan rumah kang to lah berdiri sebuah rumah yang dimasa kecilku merupakan rumah termewah, disanalah aku dan keluargaku tinggal. dulu ayah punya usaha ternak ayam dalam jumlah yang besar. rumah kami sangat kecil dibanding dengan kandang-kandang yang berdiri dengan gagahnya dihalaman belakang rumah. dan percaya tidak percaya kami baru menyadari bahwa rumah itu memiliki nilai magis setelah kami meninggalkannya untuk pindah kejakarta. Dulu saat kami masih tinggal disana, suatu hari ayah pergi kesemarang untuk urusan dinas, mendadak kami mendapat kabar ayah masuk rumah sakit karena ginjalnya bermasalah. Belum sempat tetangga mengetahui kabar tersebut, para tetangga terkejut dengan rubuhnya salah satu kadang ayam ayah yang berukuran paling besar. untungnya pada saat itu adalah masa istirahat kandang. ada lagi cerita, suatu hari setelah rumah itu kami tinggalkan dan penghuni barunya baru menempati, hujan besar mengguyur disertai gemuruh guntur yang menggelegar dan tiba-tiba pohon kelapa yang ada dihalaman depan rumah tersambar petir dan beberapa hari setelah kejadian tersebut salah satu penghuni rumah tersebut ada yang dipanggil Allah SWT. yah entah hanya kebetulan atau karena memang memiliki nilai magis yang jelas rumah itu seperti memiliki hubungan batin dengan penghuninya, apalagi mitos posisi tusuk sate makin membuat nilai magis dari rumah itu semakin kental.


Keesokannya sebelum kembali kejakarta, aku menyempatkan diri untuk mengunjungi tempat dimana untuk pertama kalinya aku belajar membaca,berhitung,bersosialisasi sampai berorganisasi, disanalah aku memulai mengukir prestasi dibidang kepramukaan. 4 tahun aku disana dinobatkan sebagai dokter kecil. dimana lagi kalau bukan di Sekolah Dasar NEGERI 1 KARANGJATI. terlalau banyak kenangan yang tak terlupakan, disetiap sudut sekolah ini memiliki arti dalan hidupku, ruang kelas, halaman tempat biasa aku bermain kasti dan latihan pramuka, UKS dimana aku bisa menggunakan pakaian kebanggaanku sebagai dokter kecil, kantin dimana aku biasa membeli makan saat istirahat dan pohon bunga sepatu yang selalu menjadi korban kekreatifitasanku yang nakal dalam dunia potong memotong. Sungguh masa kecil yang sangat menyenangkan. dan itulah tempat terakhir yang aku kunjungi sebelum akhirnya aku kembali kejakarta dan memulai untuk melangkah lagi dan meneruskan hidupku.

Rabu, 20 Agustus 2008

Perjalanan II (Pahlawan,nasib petani tembakau&rasa syukur )

Masih Minggu 17 Agustus 2008

Saat orang-orang merayakan HUT RI yang ke 63 dengan berbagai kesibukan, mulai dari upacara,pesta kemerdekaan dan panggung hiburan seperti tahun-tahun sebelumnya. aku justru mendamparkan diri di laut lepas. Di pantai "Sekucing" aku semakin mengenal diriku dan mencoba berintropeksi diri.

Jam menunjukkan pukul 9 pagi, udara pantai mulai tak bersahabat, mataharipun semakin tinggi dan panas, banyak pengunjung yang pulang dan pantai mulai sepi. kami memutuskan untuk kembali, karena kami harus segera ke SAREAN (pekuburan) tempat semua saudara dan nenek moyangku dimakamkan. Setelah memandikan ponakanku yang hanpir selama 3jam berendam dipantai maka kami pun pulang.......

Sesampainya kami dirumah, kami langsung bersiap siap menuju SAREAN. Jujur 17an kali ini merupakan moment yang baik untuk memperkenalkan sosok pahlawan pada keponakanku . Almarhum Bpk SIDONO GONDOSUWITO, kakek/bapak kandung dari Bunda adalah salah satu pahlawan kemerdekaan. ini dibuktikan dengan ilustrasi bambu runcing dengan bendera merah putih yang terbuat dari seng yang tertancap di atas Nisan Kakek. Kakek memang tidak dimakamkan di Makam Pahlawan seperti pahlawan-pahlawan lainnya, karena kakek saat masih hidup memang pernah meminta untuk dimakamkan di SAREAN didekat desa agar anak cucunya bisa setiap saat-setiap waktu datang untuk mendoakannya. dan Bunda dengan bangganya menceritakan kenangan soal kakek kepada keponakanku itu.

Setelah kami merapikan semua bawaaan kami, tepat jam 10 kami melanjutkan perjalanan sesuai dengan rencana. Sebelum kami menuju Ungaran, kami mampir ke beberapa tempat, tadinya kupikir ini akan menjadi kunjungan biasa. siapa sangka ini akan menjadi pelajaran hidup bagiku dan ladang untuk bersyukur. Kami mampir ke salah satu Kakek Sepupu dari Bunda, beliau adalah adik dari almarhum kakekku. dia hidup sangat sederhana, rumah kampung berlantai tanah dan beratap genting tak memanpakkan diri bahwa dia cukup kaya, dia adalah pemilik beberapa petak sawah. sawah-sawah itu sebagian dia tanami padi dan sebagian dia tanami tembakau dan saat inipun dia sedang panen tembakau.

Warga daerah ini memang salah satu daerah penghasil tembakau. sepanjang jalan aku melihat berjejer irisan tembakau yang sedang dikeringkan secara tradisional. tiba-tiba teringat olehku, gencarnya pemberitaan bahwa akan dikeluarkannya Fatwa MUI mengenai pengharaman Rokok. kebayang ngak bagaimana nasib warga sini, termasuk juga kakek sepupuku ini kalau fatwa itu benar-benar disetujui. YA jujur saja aku termasuk orang yang menginginkan fatwa itu segera keluar karena bagiku asap rokok itu amat sangat mengganggu, tapi ini tidak akan menyelesaikan masalah, karena akan timbul masalah yang jauh lebih rumit. Menurutku satu-satunya cara untuk mengurangi konsumsi rokok adalah dengan menaikkan cukai rokok, sehingga masyarakat berfikir dua kali bila ingin membeli rokok dan kehidupan petani tembakau tetap bisa berjalan sebagaimana mestinya, karena rokok hanya bisa dikonsumsi oleh orang-orang berduit saja.

Karena waktu kami yang sempit, maka kami tidak lama berkunjung kerumah kakek sepupu. perjalanan kami lanjutkan menuju Kendal, kami hendak berkunjung kerumah pak dhe ( kakak laki-laki Bunda). semasa kecil dulu aku dan saudara-saudara sepupuku sangat segan dengan sosok pakdhe yang satu ini. dia sangat tegas dan jarang beramah tamah dengan ponakan-ponakannya. hanya saja aku senang bila diajak kerumah pakdheku yang satu ini, karena satu hal, rumahnya sudah modern dan nyaman. sebagai Wakil ketua DPR tingkat II Kendal yang saat itu dijabatnya, membuat pelayanan dirumah ini sangat menyenangkan, banyak makanan yang enak-enak dan beraneka macam permen yang tersedia di meja tamu sangat membuatku betah disana.

Siapa sangka, di usia tuanya kini beliau sudah tak berdaya. raut wajah yang tak bersahabat kini memancarkan kepasrahan. Penyakit pengapuran di tulang ekornya membuat pak dhe hanya bisa tertidur dikasurnya dengan aktifitas yang terbatas. bukan hanya itu. Di usia senjanya dia hanya hidup dengan istrinya karena anak-anaknya tinggal diluar kota,bahkan anak sulungnya kini sedang mengarungi samudra sebagai pelayar. Rasa sedih melihat keadaan pakdhe membuatku menangis, hatiku miris sekaligus bersyukur karena masih memiliki orang tua yang begitu sehat dan segar. dan apapun yang terjadi aku takkan membiarkan masa tua kedua orang tuaku dalam kesepian, sebisa mungkin aku akan mendampingi mereka sampai kapanpun.

Selasa, 19 Agustus 2008

Perjalanan I

Sabtu16 Agustus 2008......

Pagi itu sekitar jam 5, tidak seperti biasa Bunda membangunkanku. Rasa khawatir langsung menghantui perasaanku karena biasanya kalau Bunda membangunkanku berarti aku terlambat bangun dan aku siap-siap untuk mendapatkan sarapan pagi yang sangat tidak menyenangkan. Tapi darahku langsung mengalir lembut ketika Bunda malah tersenyum padaku dan menawarkanku sesuatu. Bunda dan Ayah mendadak ingin pulang ke semarang, tanpa ragu langsung aku terima tawaran itu, setelah semalam aku merasa sangat bosan karena liburan panjang ini akan aku lewatkan dengan berdiam diri dirumah cos temen-temen sibuk meramaikan 17-an.

Setelah melakukan persiapan secukupnya, Tepat jam 10 pagi aku,Bunda,Ayah dan keponakanku tersayang Adiba berangkat dari rumah. Awalnya aku sedikit ragu ketika aku akan mengutarakan keinginanku untuk berkunjung ke sebuah desa yang selalu hadir di mimpi-mimpiku, Desa dimana aku menghabiskan masa kecilku yaitu Desa Karangjati-Ungaran. setelah acara di Weleri (kampung ayah dan Bunda) selesai tentunya. Alangkah senangnya aku ketika Ayah mengabulkan permintaanku dan akupun semakin bersemangat .

Perjalanan panjang ini semakan melelahkan, Liburan panjang kali ini rupanya menjadi moment yang tepat untuk pulang kampung. bukan hanya sekedar pulang kampung biasa, karena ini adalah liburan panjang terakhir jelang bulan puasa. Seperti kebiasaan masyarakat Indonesia yang membudayakan Nyekar sebelum puasa tiba, hal ini membuat jalanan menuju tengah dan timur pulau Jawa ini padat dan macet.

Seharusnya perjalanan ini hanya kami tempuh dalam waktu kurang dari 9 jam,tapi ternyata harus kami tempuh dalam waktu lebih dari 10 jam. Jam 9 malam kami baru sampai di Weleri. Sebelum kami kerumah Budhe, kami memutuskan untuk Sholat isya dan makan malam, sudah menjadi kebiasaan kami setiap melakukan perjalanan kemanapun, tidak lengkap rasanya tanpa berwisata kuliner. Dan tentu saja kami sudah punya tujuan, bakmi "pak Kromo". warungnya sangat sederhana dan letaknyapun masuk kedalam gang dan jauh dari jalan raya. setelah memarkirkan mobil di halaman kantor kecamatan, kami langsung masuk kedalam gang, pemandangan pertama adalah pikulan tempat pak kromo memasak mienya yang terletak diluar warung. setelah memesan mei rebus dan sambil menunggu pesanan, sepiring gorengan pun menggoda selera apalagi perut kosong membuatku tak tahan untuk langsung menyantapnya.

Tak lama pesanan kami datang, bagi orang yang pertama kami melihat mie ini pasti tidak menyangka bahwa rasanya selangit, karena kuah mienya yang berwarna hitam pucat dan bisa dibilang tidak menarik. Dan kalau kamu berfikir perlu ditambah saos..Selamat!!! kamu tidak akan menemukan itu karena pak Kromo berusaha mempertahankan cita rasa khas mienya yang natural. So selain dasyat enaknya yang pasti kesehatannya juga terjamin.

Setelah puas menikmati mie, kami langsung menuju rumah kakak perempuan bunda (Budhe)....karena kelelahan aku dan diba memutuskan untuk tidur setelah mandi. Dan bagi para orang tua pastinya mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk bercengkrama.

Minggu 17 Agustus 2008 ..........

Azan subuh membahana...meski kantuk masih setia menggelayuti mataku, aku tetap harus bangun untuk melaksanakan sholat subuh. Awalnya setelah solat subuh aku mau tidur lagi menikmati udara dingin pedesaan yang sangat menggoda, tapi tawaran Ayah tak sanggup ku tolak, dia mengajak kami untuk ke pantai "sekucing". sebuah pantai yang masih menjadi bagian dari laut Utara pulau jawa ini letaknya 80km dari tempat kami, pantai ini sangat indah dipagi hari, karena berbeda dengan laut yang ada diselatan yang justru indah pada sore hari. dari pantai ini kita dapat melihat matahari terbit.

Dengan semangat setelah solat subuh kami segera berangkat. Tapi sayang, karena acara cukup dadakan, maka kami butuh waktu agak lama untuk bersiap-siap. kami berangkat setengah jam lebih lambat dari rencana awal. Perjalanan menuju pantai sangat mengagumkan sekelilingku kulihat sawah hijau membantang dengan gunung-gunung yang setia menjadi background dari kecantikan ciptaan Tuhan ini. walau sedikit kecewa karena matahari tak bisa menunggu, walhasil kami hanya bisa melihat terbitnya matahari dari balik sawah.

Mengagumkan Ciptaan Tuhan ini, dia menciptakan segalanya dengan sempurna. aku kini merasa sedikit lega ketika matahari masih menampakkan kecantikannya ketika aku sampai disana. dan akupun tak berhenti mengaguminya. Langkah beruntungnya aku masih bisa menikmati ini semua, Merasakan hangatnya sinar mentari, menikmati derusan ombak yang menyisir kepantai, menikmati kedamaian, bebas, lepas, Tenang dan kucoba melepaskan semua beban. kubiarkan kakiku disapa lembutnya ombak dan pasir. kupandangi ujung pantai ini, dan terfikir olehku sebuah jawaban atas sebuah pertanyaan, Mengapa kita harus putus asa sedangkan harapan itu tak pernah berujung. cakrawala yang membentang panjang dihadapanku mengisayaratkan bahwa sesuatu yang nampak seperti akhir bukanlah akhir dari segalanya, setiap akhir adalah awal untuk perjalanan selanjutnya. Jiwaku semakin larut kedalam keindahan pantai ini. Takcukup hanya menikmati, rasa syukurpun ku panjatkan aku merasa Tuhan begitu dekat. malam sebelum perjalanan ini dimulai aku hanya seseorang yang hanya bisa mengeluh, mengapa saat orang bisa melewati liburan panjangnya dengan berbagai acara, aku hanya diam mendengarkan Iradio tanpa tahu apa yang akan aku lakukan besok, saat orang-orang sedang bergembira. Aku yakin Tuhan Maha Mendengar dan hanya karenaNyalah aku berada disini pagi ini, dan mungkin aku lebih bahagia dibandingkan orang-orang,teman-teman dan sahabat-sahabatku yang memang sudah memiliki rencana sebelumnya. dan kini aku hanya diam menikmati kebahagiaan ini dan mengaguminya sebagai anugerah terindah.




Sabtu, 26 Juli 2008

Toko " SUAMI"

Aneh ya judulnya.... tapi cerita dibalik judul ini lebih menarik dari Judulnya lho.......


Di seluruh belahan bumi ini sudah tidak asing lagi kalau ada berita yang mengatakan pertumbuhan populasi wanita jauh lebih pesat dari pertumbuhan populasi kaum laki-laki, sehingga akhir-akhir ini sudah tidak tabu lagi bagi perempuan tetap melajang meski usia sudah tak lagi muda. Tapi pertanyaannya apakah kaum hawa ini tetap tenang menghadapi kenyataan ini????

ternyata jawabannya Tidak! Banyak kaum Hawa yang mencoba berbagai cara untuk mendapatkan pasanganya, dan hal ini tidak hanya terjadi di Benua Asia yang lebih banyak menganggap bahwa melajang itu Aib. Nyatanya dari Inggris aku mendapatkan cerita dari seorang sahabat.

Di sebuah kota di Inggris berdirilah sebuah gedung dengan 6 lantai. Gedung ini menjadi pusat perhatian sejak diresmikannya gedung tersebut sebagai Toko bernama Toko "SUAMI". yang menjadi menarik adalah produk yang diajual di toko tersebut, Toko itu menjual laki-laki bagi para wanita yang mendapat kesulitan untuk mendapatnya Suami.

Seorang Wanita tertarik untuk mencoba keberuntungannya dalam menemukan pasangan hidupnya. lalau masuklah wanita tersebut dengan penuh semangat. dilantai dasar dia bertemu dengan seorang pelayan. Pelayan tersebut menjelaskan peraturan yang berlaku di Toko Suami tersebut, peraturan tersebut hanya satu yaitu setiap lantai hanya boleh dilewati satu kali saja artinya setelah dia melewatinya maka dia tidak boleh kembali lagi kecuali saat melintas ketika turun untuk keluar.

Setelah mengerti maka pergilah siwanita menuju lantai satu. begitu sampai dilantai satu maka si wanita mendapati sebuah pintu yang bertuliskan sebuah petunjuk sebagai berikut "Laki-laki dilantai ini adalah laki-laki yang penyayang dan taat pada TUHAN " Si wanita tersenyum dan dia memutuskan untuk pergi ke lantai 2.

Dilantai 2 si wanita kembali menemui satu pintu yang bertulis sebuah petujuk sebagai berikut "Laki-laki dilantai ini adalah laki-laki yang penyayang dan taat pada TUHAN dan menyukai anak-anak " Siwanita kembali tersenyum dan kembali memutuskan untuk pergi kelantai 3.

Dilantai 3 si wanita kembali menemui satu pintu yang bertulis sebuah petujuk sebagai berikut "Laki-laki dilantai ini adalah laki-laki yang penyayang, taat pada TUHAN, menyukai anak-anak dan Romantis " Siwanita kembali tersenyum dan kembali memutuskan untuk pergi kelantai 4.

Si wanita semakin penasaran dan Dilantai 4 si wanita kembali menemui satu pintu yang bertulis sebuah petujuk sebagai berikut "Laki-laki dilantai ini adalah laki-laki yang penyayang, taat pada TUHAN, menyukai anak-anak, Romantis, dan Ganteng " Siwanita kembali tersenyum dan semakin penasaran dengan isi laki-laki di lantai 5 dan diapun memutuskan untuk pergi kelantai 5.

Dilantai 5 lagi-lagi si wanita kembali menemui satu pintu yang bertulis sebuah petujuk sebagai berikut "Laki-laki dilantai ini adalah laki-laki yang penyayang, taat pada TUHAN, menyukai anak-anak, Romantis,Ganteng dan suka membantu pekerjaan rumah " Siwanita merasa takjub dengan laki-laki dilantai 5 ini tapi dia sadar bahwa laki-laki disetiap lantai memiliki 1 keunggulan dari pada laki-laki dilantai sebelumnya. maka dia yakin laki-laki di lantai 6 adalah laki-laki yang paling sempurna di toko ini, maka dia membuang kesempatannya dan langsung naik kelantai 6.

Dengan gembira dia melangkahkan kaki kelantai 6 dan menuju satu-satunya pintu yang ada dilantai itu, dengan penuh rasa penasaran maka tibalah dia dipintu itu dan membaca petunjuk yang sangat mengagetkan yaitu " ANDA ADALAH PENGUNJUNG KE 923.745 JUTA, TIDAK ADA LAKI-LAKI DILANTAI INI "

Siwanita langsung lemas dan turun dangan penuh penyesalan karena telah membuang banyak kesempatan yang telah diberikan dan akhirnya dia menyadari bahwa tidak ada satupun manusia yang sempurna didunia ini..........





Kamis, 22 Mei 2008

ADA HIKMAH DIBALIK PERISTIWA

Senin sore tanggal 12 mei 2008 jam 5.30, seperti biasa sampai di rumah. tapi aku merasa ada yang lain terjadi pada tubuhku, tangan dan kakiku dingin sekali awalnya aku tidak menyadarinya, "ihhhhh tangan tante dingin banget ah" kata Adiba ( Ponakanku) protes ketika ku tempelkan tanganku untuk mencubit pipinya. tapi aku masih menganggapnya biasa, karena aku berfikir karena cuaca sore itu yang mendung hingga mempengaruhi suhu badanku. Karena hari makin malam dan magrib segera datang, tanpa membuang waktu aku langsung bergerak mandi.

Selesai mandi aku merasa mengigil, kepalaku mulai pening, susah payah aku berusaha menyelesaikan solat magribku meskipun kakiku mulai terasa lemas. Alhamdulillah selesailah solatku. tapi aku tak kuat lagi untuk kemana-mana, ku rasa akan baik kalau aku istirahat sebentar dan bangun saat Isya. Kepalaku makin pusing, tenggorokanku terasa panas.
" Tante mau ikut beli mie rebus ngak ?" Adiba masuk kekamarku dan menawarkan mwnu makan malam yang biasanya akan sayang untuk ditolak. tapi selera makanku telah hilang entah kemana.
" ngak mbak aja sama eyang kakung dan eyang putri, tente titip larutan penyegar aja yah " pesanku pada ponakan kecilku. dengan langkah yang dipercepat karena sifat penakutnya saat melewati tangga yang menghubungkan ruanmg atas dan ruang bawah , diba segera melaporkan permintaanku.

Tak lama diba mengantarkan 2bungkus larutan penyegar instan tanpa memberiku air, Duh tega betul anak ini, sedangkan aku rasa aku tak kuat lagi turun untuk mengambil air sedangkan aku mendengar deru mobil ayah sudah melaju menuju suatu tempat favorit keluarga kami untuk makan malam. aku benar benar tak berdaya, dalam kesendirian aku merasakan tubuhku seperti berada dalam es batu, selimut tebalku tak mampu membuatku merasa nyaman. kepalaku serasa ingin meledak setiap kali kucoba membuka mataku, kuraba keningku terasa panas. "Astagfillahalazzim....." berkali-kali hanya kalimat itu yang mampu keluar dari mulutku. jangankan turun dari tenpat tidur dan meminta bantuan seseorang yang mungkin lewat di depan rumahku, untuk meraih handphone yang ada dilaci diatas kepalaku saja aku sudah tak sanggup. " Ya...Allah seperti inikah rasanya bila Izrail akan datang?" Entah kenapa yang ada dalam pikiranku hanya kematian. Bukan kematian yang aku takutkan, tapi aku dalam keadaan sendiri dirumah, siapa yang akan mengetahui kepergianku kalau tak satupun orang yang ada dirumah.

Aku menangis sejadi-jadinya, berharap ada orang yang mendengar dan segera menolongku. Tapi posisi kamarku yang terpisah dari rumah utama, membuat suaraku sama sekali tak terdengar oleh orang-orang yang ada dibawah apalagi yang ada diluar rumah. Suara mobil masuk kegarasi rumah membuatku lega, tapi suaraku seperti hilang, teriakanku bahkan tak terdengar oleh telingaku sendiri. sudah payah aku mencoba memberi tanda pada orang yang ada dibawah kamarku.tapi sama sekali tak berhasil dan akhirnya aku menyerah" ya Allah jika sudah datang waktuku, aku rela karena dirumah ini ada orang-orang yang aku cintai" dalam hati aku berkata dan menangis. ya entah menangis karena takut mati atau menangis karena menahan rasa sakit yang luar biasa.

Aku sebisa mungkin untuk tetap sadar, dalam hati dan pikiranku hanya dzikir yang mampu ku ingat dan kuucap. Syukur Alhamdulillah, bunda kekamarku untuk mengingatkanku bahwa aku belum makan malam, aku tak sanggup bergerak karena dengan membuat satu gerakan maka kepalaku akan terasa ingin lepas. melihat aku tak bergerak bunda langsung memeriksaku.
" Panas, kompres " kataku meminta. dengan mengandalkan pendengaranku aku yakin bunda langsung turun dan mengambilkan aku air untuk kompres. ngak seberapa lama, ayahlah yang datang kekamarku dan memeriksa keadaanku. Ayah langsung menginstruksikan untuk segera kedokter. mungkin karena aku merasa lega keadaanku sudah diketahui oleh kedua orang tuaku, aku seperti mendapatkan kekuatan yang luar biasa. dengan dibantu ayah aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuruni tangga demi tangga. aku hanya berfikir secepat mungkin mendapatkan pertolongan.

Diruang dokter, dokter muda yang menanganiku memintaku untuk cek darah. Dokter ganteng (sempet-sempetnya curi-curi pandang!!!) yang sudah beberapa kali kutemui saat mengantar bunda bila keluhan darah tingginya kumat mengindikasi aku terkena Thypus. tanpa mau melihat aku semakin tersiksa karena pusing yang begitu menyiksa, begitu bagian laboraturium mengambil darahku, ayah segera mengantarku pulang agar bisa tidur dan biarlah bunda dan keponakanku yang mengambil hasil lab, dan ayah akan kembali menjemput bunda kalau hasilnya sudah keluar.

Sesampainya dirumah, aku langsung tidur dikamar bunda, karena aku seperti kehabisan tenaga untuk naik kekamarku, dan akan sangat menyusahkan bundaku untuk merawatku kalau sampai penyakitku ini berkelanjutan. Setelah mengantarku Ayah kembali ke klinik untuk menjemput Bunda. Ya Allah, lagi-lagi aku sendiri...aku merasa keadaaku semakin parah, kini bukan hanya kepalaku yang ingin pecah tapi tubuhku terasa sakit semua. Sepertinya tulang-tulang yang ada disekujur tubuhku sedang dicabuti, Luar biasa sakitnya...aku menjerit...tapi tak seorangpun mendengar...aku menangis sejadi-jadinya, aku benar-benar tak bisa menahan rasa sakitnya...aku menangis...sampai tak sadarkan diri...bukan pingsan tapi aku tertidur dan terbangun saat mendengar suara mobil masuk kegarasi. Aku menangis dan mempertanyakan kenapa mereka lama sekali.

Bunda langsung membuatkan aku bubur instan karena aku harus makan dulu sebelum minum obat. tapi rasanya tubuhku menolak apapun yang masuk kedalam tubuhku. susah payah aku menelan bubur,aku ingin segera mimun obat dan segera terbebas dari rasa sakit. bubur yang masuk hanya 3 sendok makan karena suapan keempat tak mampu kutelan. Setelah minum obat ayah menerangkan kalau aku positif kena thypus jadi mengultimatumku untuk istirahat 100%.

2hari dirumah, keadaanku tidak menunjukkan kemajuan, panas tubuhku tidak berkurang,setiap menit aku merintih karena semua tubuhku terasa sakit. Akhirnya Rabu 14 mei 2008 ayah memasukkanku ke RS Mitra Keluarga Bekasi Timur, Aku salut pada paramedis yang ada, aku langsung mendapatkan pelayanan yang ramah, aku merasa nyaman mendapatkan pelayanan tersebut, jarum infus langsung menembus punggung tangan kiriku. aku bersyukur karena tak takut melihat jarum, melihat darahku diambil dan semua kegiatan medis kulewati dengan tenang karena aku hanya ingin segera sembuh jadi aku pasrah.

Karena ruang lain telah penuh, aku ditempatkan di kelas III rumah sakit tersebut. buatku tak masalah yang penting aku segera lepas dari penderiataan ini.Entah obat apa yang dimasukkan kedalam tubuhku, kepalaku tersa ringan, aku merasa badanku tak lagi mengigil darah hangat seperti mulai mengalir kedalam tubuhku. nyeri ditulang-tulangku mulai menghilang. aku mulai bisa menguasai diriku sendiri.

Kita akan tahu siapa diri kita dari seberapa banyak orang yang perduli dengan kita ketika kita terkena musibah. Subhanallah....sejak aku masuk rumah sakit, setiap jam besuk tak berhenti-hentinya orang menjenguk. Aku memang tak tahu persisi siapa saja mereka, tapi mereka semua tahu aku anak Ayah dan Bunda, Alhamdulillah aku punya orang tua yang selalu menjaga tingkah laku hingga kesan baik terekam oleh orang-orang disekeliling kami. Aku hampir menangis ketika orang yang menunggu pasien yang ada disebelah kasurku berkata. " Wah tamunya banyak terus ya..." Subhanallah, mudah-mudahan ini pertanda baik bagi keluargaku dan aku harus menjaga nama baik dan kehormatan orang tuaku.

Hari ke2 dirumah sakit dokter mengatakan bahwa trombositku turun hingga 113.000 memang ini masih dalam batas wajar, tapi kalau tidak hati-hati dan terus turun kemungkinan bukan hanya typhus yang aku derita mungkin ada demam berdarah juga. Nafsu makanku turun drastis, semua makanan yang seharusnya nikmat menjadi siksaan bagiku, baru mencium bau makanan rasa mual langsung mengganggu lambungku. aku mulai bosan, kemana-mana aku harus membawa botol infus yang sejak tertancap ditanganku membuatku harus sering ke kamar kecil. yang lebih menyiksa lagi kalau ingin mandi, aku selalu kerepotan saat melepas baju atau memakai baju karena jarum infus tidak boleh bergeser atau akan terjadi pendarahan. saat itu aku berfikir "Ya Allah, Begini rasanya hanya mempunyai 1 tangan. aku sungguh-sungguh tak berdaya, semuanya yang seharusnya mudah sangat sulit aku lakukan....Ya Allah beginilah caramu menunjukkan kekuasaanMU"

Badan yang tadinya baik-baik saja, hanya dalam hitungan menit dapat rapuh dan tak berdaya, tangan yang lengkap Allah mengujinya dengan mati suri karena terikat selang infus . Allah menguji umatnya dengan jalan yang tidak terduga datangnya. Alangkah sombongnya aku selama ini, menganggap aku takkan sakit karena pekerjaanku sekarang lebih ringan dibandingkan pekerjaanku yang dulu, nyatanya malah ambruk seambruk-ambruknya. Sombong dengan tangan yang lengkap dan sering memandang sebelah mata orang-orang yang memang kehilangan tangan mereka. Menganggap aku bisa melakukan sesuatu sendiri dan nyaman karena selalu dikelilingi orang yang mencintaiku setiap saat, nyatanya aku benar-benar tak berdaya saat ditinggal sendiri di rumah dalam keadaan sakit. Sungguh tersiksanya saat nanti aku mati aku benar-benar sendiri tak ada orang yang mengurus jasadku,tak ada doa orang-orang yang menyelamatkanku dari siksa kubur, Auzubillahiminzalik.... semoga semua kejadian ini membuka mata dan hatiku bahwa kita manusia benar-benar tak berdaya tanpa Kasih Sayang Allah....

Dan kerena kasih sayangNYA pula, sabtu 17 mei 2008 dokter mengataklan trombositku sudah diatas normal yaitu 123.000, sebenarnya masih rendah tapi Dokter mengijinkan untuk rawat jalan jadi kalau bisa dirawat di rumah kenapa harus buang-buang uang untuk menambang pundi-pundi kekayaan para dokter-dokter itu...he...he..he ( ngak ada trimakasih-trimakasihnya ma dokter yach...)

ayitha kini dalam keadaan baik-baik saja dan sudah memulai aktifitas seperti semula
semoga rahmat Allah tak putus-putusnya untuk kita semua..... AMIN..........

Jumat, 09 Mei 2008

PAHLAWAN ATAU PECUNDANG

Disuatu hari disebuah negara, ada seorang pemuda yang menderita sakit parah. Meskipun secara fisik tidak mempengaruhi kehidupannya sehari hari, namun semua dokter dinegara itu sudah mengatakan bahwa penyakitnya itu akan mengantarkannya kepintu kematian. kesediahan yang begitu dalam dirasakannya. dia tak tahu lagi harus bagaimana dan apa yang harus dia kerjakan disisa hidupnya.
Suatu hari sang raja mengumumkan bahwa negara mereka dalam keadaan darurat dan semua anak laki-laki harus mengikuti bela negara untuk dikirim perang. Pemuda yang sakit tadipun tak luput dari tugas itu. kalau untuk pemuda lain ini adalah hal yang menakutkan, namun buat pemuda yang satu ini, ini adalah saat yang tepat untuk membuat sisa hidupnya berarti. tanpa ragu dia langsung mendaftarkan diri menjadi pasukan terdepan.
keadaan makin mencekam, lawan makin mendekat dan peperangan tak terhindarkan. si pemuda tadi berperang dengan sekuat tenaga, dia menjadi pemuda yang paling terdepan, baginya nyawanya sudah tak diperdulikannya. baginya mati sekarang di medan perang akan membuatnya berarti daripada dia mati dikasur yang empuk dan menyerah pada penyakitnya.
Siapa sangka keberanian si pemuda tadi membuat peperangan yang terjadi berkali-kali ini dimenangkan oleh pasukannya. Sang Raja yang mendapat kabar kemenangan itu dan mendengar tentang keberanian seorang pemuda membuatnya begitu bangga, seusai perang sipemuda ini dipanggilnya. karena keberanian pemuda itu, sang Raja langsung memberikannya sebuah kehormatan dengan menjadikannya panglima untuk seluruh pasukan yang ada negara tersebut.
Si pemuda yang tadinya tak merasa hidupnya berarti kini berubah. dia merasa harus berjuang untuk hidup, dia meminta kepada Raja untuk memberinya dokter terbaik untuk menyembuhkannya. dan sang raja mengabulkannya, beliau merfikir kalau sakit saja pemuda itu bisa membuat negara ini menang apa lagi kalau dia dalam keadaan sehat maka didatangkanya dokter-dokter terbaik dinegara tersebut, mumpung masih ada waktu sebelum pemuda ini kembali kemedan perang untuk memperluas wilayah kekuasaan Raja.
Si pemuda itu akhirnya sembuh dari penyakitnya. peperangan sudah didepan mata, karena sipemuda itu kini sudah menjadi seorang panglima perang dan telah sembuh dari penyakitnya , sipemuda tak mau lagi berada dilapisan terdepan dari pasukannya. dia berfikir ini adalah kehidupan kedua baginya dan dia tidak akan melepaskannya lagi. tugasnya kini hanya membuat strategi berperang yang tempatnya jauh dari medan perang dia hanya memerintahkan pasukannya untuk berperang.
Namun apa yang terjadi, peperangan tersebut justru dimenangkan oleh pihak lawan. bukan karena pasukannya lemah, bukan karena strateginya salah. tapi karena tidak ada lagi seorang pemuda yang tak takut kehilangan nyawa karena mengidap penyakit yang mematikan. tidak ada lagi pemuda yang melihat kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan.
lalu siapakah pemuda itu sesungguhnya.....
PAHLAWAN atau PECUNDANG...?????????

Sabtu, 22 Maret 2008

Sugesti mempengaruhi kekuatan pikiran

Bismillah.....
Assalamualakum wr.wb


Akhir-akhir ini semua siswa disekolahku sedang merasa resah, karena dalam waktu 2 minggu sudah 7 anak yang kehilangan uang tanpa kehilangan dompet mereka. kami yakin pelakukanya adalah salah satu siswa disekolah kami karena dia tahu siapa yang hari ini memegang uang banyak dan tahu meskipun kami sudah menyimpannya dengan baik.

Pagi itu semua siswa dikumpulkan dilapangan aku sudah menyiapkan sebuah kotak tertutup dan sebuah batu. Dengan bantuan soundsistem milik sekolah kami aku menjelaskan kepada teman-temanku dan mencoba menyakinkan mereka bahwa batu yang ada ditanganku memiliki kesaktian dan dia tahu siapa pelakunya

Untuk menjaga kerahasiaan teman-teman semua, aku memasukkan batu tersebut kedalam kotak, dan setiap anak secara bergiliran wajib memegang batu dalam kotak selama 3 menit atau sampai aku bilang cukup. setelah itu aku akan segera diberitahu oleh si batu apakah sipemegang pelakunya atau bukan. Aku tidak sendiri aku dibantu beberapa guru untuk mengatur giliran dan memastikan bahwa setiap siswa sudah mendapat giliran memegang batu. Akhirnya satu persatu temanku mendapat giliran, aku perhatikan mereka secara teliti melihat keadaan tangan sebelum dan sesudah memegang batu tersebut. dan aku segera tahu dan mencatat nama-nama yang sekiranya kucurigai.

Setelah semua sudah mendapat giliran,ada 2 nama yang ada dalam catatanku dan aku meminta kedua anak ini dipanggil secara diam-diam keruang guru untuk menjaga keamanannya karena bagaimanapun mereka adalah temanku. tak lama mereka berdua sudah ada di satu ruangan dengan aku, kepala sekolah, wali kelas siswa yang dipanggil dan guru sosiologi. Aku serahkan semuanya kepada mereka, dan tanpa mengunggu terlalu lama kedua temanku mengaku bahwa merekalah pelakunya.

Aku senang ekperimenku berhasil. Teman, percayakah kalian kalau batu itu benar-benar memiliki kekuatan dan bisa bicara denganku ????
Jawabannya "NGAK MUNGKIN" , tanpa kalian ketahui batu itu sebelumnya sudah aku lumuri dengan minyak yang tipis yang sekiranya kalian tidak curiga bahwa itu adalah minyak. aku tahu dalam keadaan seperti itu semua siswa akan merasa cemas dan berefek tangan menjadi dingin dan cenderung berkeringat sehingga keberadaan si minyak tidak akan mudah kalian ketahui. dan setiap siswa yang benar-benar memegang batu itu aku bisa melihat sisa minyak ditangannya dan aku bisa membedakan mana keringat dan mana minyak.

Bagi kalian yang merasa bukan pelakunya, maka aku yakin kalian dengan percaya diri akan memegang sibatu tanpa rasa takut, tapi bagi pelakunya pasti dia sudah merasa ketakutan, dia percaya bahwa batu itu memiliki kekuatan maka dia tidak akan berani memegang sibatu. Dan karena batu ada dalam kotak maka tak ada satupun yang tahu apakah dia memegang batu atau tidak, jadi kalau ada anak yang saat mengeluarkan tangannya aku tidak melihat bekas minyak ditangannya maka aku berasumsi bahwa dialah pelakunya.

Alhamdulillah aku tidak salah orang, tanpa perlawanan mereka mengaku bahwa merekalah pelakunya dan keadaan sekolah kita menjadi aman kembali. tak ada yang tahu rahasia ini selain aku dan guru sosiologiku. Dan buat teman-teman SMA ku yang membaca Blog ini. inilah jawaban atas pertanyaan kalian selama ini dan jangan pernah percaya ada batu yang memiliki kekuatan mistis, jangan menjadi Syirik atas apa yang pernah aku praktikkan untuk itulah dikesempatan kali ini aku berani membuka rahasia itu. mudah mudahan berguna dan menjadi pencerahan buat kalian.

Untuk Pak Dudi, terimakasih atas ilmu SUGESTINYA dan kesempatan yang diberikan kepadaku saat itu. ini benar benar menjadi pengalaman yang mengagumkan. Buat Tian, Ilham dan Yudha yang kemaren bertanya soal batu inilah jawabannya dan batu itu sekarang entah ada dimana dan sungguh jangan percaya dengan hal-hal mistik, kuatkan iman percaya bahwa Hanya Allahlah yang menjadi sumber kekuatan.

Semoga dapat menjadi inspirasi buat semuanya

Wassalammualaikum Wr.wb

Alhamdullilah.....